HADIAH AKHIR TAHUN, PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT TELAH TERVALIDASI DENGAN KURIKULUM APHEA

HADIAH AKHIR TAHUN, PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT TELAH TERVALIDASI DENGAN KURIKULUM APHEA

FKM News – Tahun 2017, Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat telah berhasil mendapatkan sertifikasi Asean University Network Quality Assurance (AUN-QA). Prestasi tersebut kemudian dilanjutkan dengan target mendapatkan pengakuan akreditasi dari Agency for Public Health Education Acredditation (APHEA). Hal tersebut merupakan amanah dari Universitas Airlangga demi mendukung pencapaian 500 World Class University.

Agency for Public Health Education Acredditation atau yang biasa disebut APHEA merupakan badan penilai akreditasi dari Eropa yang berpusat di Belgia. Awal mulanya APHEA hanya menilai pada program studi dengan jenjang Master of Public Health. Tahun 2018 ini kemudian dikembangkan dengan melakukan penilaian terhadap program studi dengan jenjang Bachelor of Public Health (Sarjana Kesehatan Masyarakat).

MENYAMBUT PERSIAPAN AKREDITASI LAMPTKES, PRODI S1 KESMAS MENGADAKAN WORKSHOP FINALISASI BORANG

MENYAMBUT PERSIAPAN AKREDITASI LAMPTKES, PRODI S1 KESMAS MENGADAKAN WORKSHOP FINALISASI BORANG

FKM News – Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat menghadapi berakhirnya akreditasi dari BAN-PT pada bulan Desember 2019 dengan mempersiapkan 1 tahun sebelumnya. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Diah Indriani selaku Koordinator Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat.

“Prodi S1 Kesmas sedang persiapan untuk menghadapi akreditasi nasional di Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan dan akreditasi internasional di Agency for Public Health Education Acredditation pada tahun 2019” ujarnya pada saat acara Workshop Finalisasi LAMPTKes.

Keseriusan prodi terlihat pada kegiatan Workshop Finalisasi Borang LAMPTKes yang diadakan pada tanggal 19-20 November 2018. Kegiatan tersebut juga mengundang asesor internal yang ada di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga. Asesor internal yang diundang diantaranya Prof. Dr. dr. Chatarina U. Wahjuni, M.S., M.PH., Prof. Dr. Merryana Adriani, S.KM., M.Kes. serta Prof. Dr. drh. Ririh Yudhastuti, M.Sc.

Kegiatan tersebut dijelaskan oleh Diah Indriani merupakan review borang LAMPTKes yang telah dikerjakan oleh tim Task Force yang telah dibentuk prodi. Borang yang telah dibuat selain direview juga langsung dilakukan perbaikan sehingga harapannya pada saat setelah mendaftar LAMPTKes dapat segera disubmit.

Workshop Finalisasi Borang LAMPTKes yang diadakan 2 hari memberikan output pada program studi yaitu siapnya borang yang akan disubmit. Selain itu program studi juga mendapatkan beberapa informasi berkaitan dengan dokumen apa yang harus disiapkan jika nantinya akan dilakukan visitasi. Sehingga antara borang yang disubmit telah sesuai dengan bukti pendukung pada saat visitasi.

Dekanat, Asesor Internal, SPM serta Tim Task Force Berfoto Bersama

Mengajak Anak Serta

Kegiatan workshop yang bersamaan dengan libur tanggal merah Tahun Baru Hijriyah membuat tim task force yang memiliki anak kebingunan. Diah Indriani selaku KPS S1 Kesehatan Masyarakat membuat kebijakan dimana tim task force yang terlibat dalam kegiatan tersebut diperbolehkan mengajak anak.

“Dengan memberikan kemudahan bagi tim task force untuk membawa serta anak pada saat kegiatan membuat kami tidak kebingungan. Karena hari libur sebetulnya waktu quality time untuk keluarga” kata Corie Indria yang juga mantan KPS S1 Kesmas sebelum Diah Indriani

Adanya anak-anak dari tim task force pada saat acara membuat kegiatan Workshop Finalisasi Borang LAMPTKes hari kedua semakin ramai. Hal itu dikarenakan pada belakang ruangan digunakan sebagai area bermain anak-anak tersebut. (MI)

Pelatihan HIRADC, Persiapan Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dengan Laboratorium Menuju Akreditasi APHEA

Pelatihan HIRADC, Persiapan Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dengan Laboratorium Menuju Akreditasi APHEA

Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat mempersiapkan diri menuju akreditasi internasional APHEA. Beberapa persiapan yang dilakukan adalah mempersiapkan laboratorium menuju Good Laboratory Practice (GLP).  Definisi dari Good Laboratory Practice merupakan sistem yang mencakup aturan, prosedur dan praktek di laboratorium yang berkaitan dengan proses dan kondisi yang mendukung studi yang direncakan, dilakukan, dipantau, dicatat dan dilaporkan.

Prinsip GLP yang harus di penuhi oleh Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat untuk menuju APHEA diantaranya:

  1. Test facility organization and personel
  2. Quality Assurance (QA)
  3. Facilities and Stirage
  4. Standart Operating Procedures (SOPs)
  5. Performance of study
  6. K3, Lingkungan, Biosafety and Biosecurity

Pelatihan yang diikuti oleh laboran di Laboratorium pada lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Ketua Departemen, Koordinator Laboratorium serta tim akreditasi APHEA Prodi S1 Kesehatan Masyarakat. Harapannya setelah mengikuti program pelatihan ini adanya follow up perbaikan minor maupun mayor untuk menunjang persiapan akreditasi APHEA yang direncakan pada tahun depan. Terutama dibuatnya dokumen Hazard Identification Risk Assessment Determinant Control (HIRADC) dalam waktu dekat.

Penulis: Mursyidul Ibad

Universitas Airlangga Peraih Nilai Tertinggi Terbaik Nasional II

Universitas Airlangga Peraih Nilai Tertinggi Terbaik Nasional II

Universitas Airlangga merupakan salah satu Perguruan Tinggi tertua Kesehatan Masyarakat di Indonesia. Untuk menjamin mutu lulusan Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM) perlu diadakannya Ujian Kompetensi (Ukom). Pada pelaksanaan Ujian Kompetensi Ahli Kesehatan Masyarakat pada periode 21 April 2018, Universitas Airlangga berhasil menjadi peraih nilai rata-rata terbaik nasional II. Skor yang didapatkan Universitas Airlangga sebesar 63,72.

Prestasi lain yang didapatkan adalah 2 peserta Ujian Kompetensi Ahli Kesehatan Masyarakat mendapatkan nilai terbaik baik dalam regional wilayah maupun nasional. Fitrah Bintan Harisma mendapatkan Peraih Nilai Terbaik I Regional Tengah II dan Peraih Nilai Terbaik Nasional II. Skor yang didapatkan adalah sebesar 83,33. Sedangkan Arfella Dara Tristantia mendapatkan Nilai Terbaik II Regional Tengah II dan Peraih Nilai Terbaik Nasional III dengan skor 82,78.

 

Penulis : Mursyidul Ibad

Prodi S1 Kesehatan Masyarakat Bersiap Menuju APHEA

Prodi S1 Kesehatan Masyarakat Bersiap Menuju APHEA

Sebagai salah satu upaya mempersiapkan diri untuk mengajukan akreditasi di level internasional, berbagai hal telah dilakukan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakar Universitas Airlangga. Akreditasi internasional ini adalah merupakan bentuk komitmen FKM Unair untuk mendukung visi Universitas Airlangga menuju 500 world class university.
Akreditasi internasional yang menjadi acuan FKM Unair saat ini adalah dengan menggunakan standard APHEA (Agency for Public Health Education Accreditation) yang saat ini menjadi salah satu acuan standard akreditasi Eropa untuk tingkat magister yang nantinya akan diadopsi untuk standard akreditasi tingkat sarjana di FKM Unair. Harapan ke depan adalah bila kelak akreditasi yang diajukan berhasil, maka FKM Unair akan menjadi satu-satunya FKM di Asia Tenggara yang memiliki akreditasi internasional ini.


Prof. Jorg sedang bertemu dengan Wakil Rektor I Universitas Airlangga

Sebagai salah satu rangkaian kegiatan menuju pencapaian ini, saat ini FKM Unair di bawah koordinasi Tim persiapan akreditasi internasional yang diketuai oleh Dr. Diah Indiarti, S.Si, M.Si telah mengundang konsultan kurikulum dari SES (The Senior Experten Service) Prof. Jorg Ingolf stein dari Austria untuk membantu Tim kurikulum mempersiapkan kurikulum yang sesuai dengan standard yang diinginkan oleh APHEA. Beliau mendampingi tim kurikulum selama kurang lebih satu bulan mulai tanggal 30 Juni hingga 25 Juli 2018. Beberapa hal telah dilakukan, mulai dari telaah dokumen, penyusunan boring kurikulum, workshop, dan sosialisasi kepada staf pengajar di lingkungan FKM Unair.
“Salah satu manfaat yang dapat dicapai dengan adanya akreditasi internasional ini adalah agar FKM Unair dapat melakukan selain standardisasi pengelolaan program studi pada level internasional, juga standarisasi kurikulum sehingga dapat membuka peluang FKM Unair untuk menerima mahasiwa internasional”, jelas Dr. Diah .
Lebih lanjut, Ketua Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM Unair, Corie Indria Prasasti, SKM., M.Kes yang juga selama sebulan ini terlibat penuh dalam proses pendampingan persiapan kurikulum berstandard internasional tersebut menjelaskan bahwa “Diharapkan di akhir kegiatan nanti FKM Unair terutama Prodi S1 Kesehatan Masyarakat telah memiliki kurikulum yang telah memenuhi standard internasional sebagaimana yang disyaratkan oleh APHEA”, tutur.
Prof. Jorg Ingolf Stein selaku konsultan sendiri menilai, bahwa “ Menurut saya FKM Unair telah memiliki base line kurikulum yang cukup bagus untuk ditingkatkan ke level internasional, dalam hal ini dengan standard APHEA. Adalah hal yang sangat baik jika FKM Unair kelak akan menjadi pionir bagi FKM lain baik di tingkat nasional bahkan regional Asia sebagai Fakultas yang memiliki program studi S1 berakreditasi internasional,” ujarnya saat mengikuti city tour yang didampingi oleh tim KIH FKM di sela-sela kegiatan beliau yang cukup padat mendampingi proses penyusunan kurikulum internasional prodi S1 FKM Unair ini.
“Surabaya adalah kota yang indah, modern, dan saya sangat terkesan akan atmosfirnya saat piala dunia kemarin. Hanya saja mungkin anda perlu meningkatkan layanan transportasi publik yang representatif seperti halnya kota kota maju lainnya di dunia”, pungkasnya.

Reporter: Muhammad Atoillah I
Foto: Istimewa
Editor: Ilham A Ridlo

Mahasiswa PKL Tingkatkan Kesehatan Ibu Hamil di Sidotopo

Mahasiswa alih jenis kelompok 2 praktik kerja lapangan (PKL) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga mengoptimalkan peran posyandu dalam menekan rendahnya angka kesehatan balita di Kelurahan Sidotopo, Kecamatan Semampir, Surabaya. Berdasar kuesioner kepada 44 responden yang memiliki balita di sana, hanya terdapat 11,4 persen yang memberikan ASI eksklusif.

”Padahal, berdasar Permen (Peraturan Pemerintah, Red) No 33 Tahun 2012, cakupan ASI eksklusif harus mencapai seratus persen,” ujar salah seorang anggota tim. ”Karena itu, wilayah tersebut kami pilih untuk menggaungkan Periode Emas Seribu Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK) dengan membuat program Posyandu Ibu Hamil (bumil) dan Galaksi X,” imbuhnya.

Rendahnya pemberian ASI eksklusif oleh warga itu disebabkan beberapa faktor. Mulai budaya, tingkat pengetahuan yang masih rendah, hingga kesibukan ibu bekerja.

Karena itu, penyuluhan mengenai ASI eksklusif sengaja dipilih tim yang beranggota sebelas orang tersebut untuk memberikan pengetahuan kesehatan. Di antaranya, soal pengertian, manfaat, kandungan, jenis ASI eksklusif, dan tips sukses menjalankan ASI eksklusif.

”Selain itu, kami memberikan pelatihan cara merawat payudara supaya ASI keluar dengan lancar. Jadi, pemberian ASI eksklusif bisa berjalan dengan baik,” tuturnya.

Yang berbeda, posyandu dari tim FKM UNAIR itu juga khusus ditujukan untuk bumil, terutama untuk mengetahui dan mengontrol perkembangannya. Sebab, umumnya, program memantau kesehatan ibu dan anak menjadi satu wadah dalam posyandu balita.

”Sebenarnya sudah ada program khusus, yaitu kelas ibu hamil, dari dinas kesehatan. Namun, ini, (kelas ibu hamil, Red) hanya setahun tiga kali dan bergiliran di setiap RW,” sebutnya.

Suasana penyuluhan ibu hamil terkait dengan ASI ekslusif. (Foto: Istimewa)

Dengan progam dari tim FKM UNAIR tersebut, kondisi kesehatan bumil setiap bulan diharapkan bisa terkontrol. Selanjutnya, angka kematian ibu mampu ditekan. Termasuk angka kematian bayi melalui pengetahuan tentang program Seribu Hari Pertama Kehidupan.

”Semua ibu hamil itu berisiko. Karena itu, pemantauan secara menyeluruh dan rutin harus dilakukan untuk memastikan kondisi ibu serta janin sehat,” jelas Nurul selaku bidan koordinator Puskesmas Sidotopo dalam sambutan pembukaan posyandu ibu hamil di RW 11 Sidotopo.

Kegiata n di balai RW 11, Sidotopo Sekolahan Gang 4, Rabu pagi (31/1) itu menarget seluruh bumil di sana. Bumil bakal melewati lima meja. Yakni, pendaftaran; pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan, dan tensi darah; pencatatan di buku KIA; konsultasi; serta pemeriksaan fisik.

”Semoga bisa rutin diadakan. Enak kalo bisa periksa di sini soalnya lebih dekat dengan rumah. Nggak perlu mengantre lama. Gratis pula,” ungkap Hanifah, salah seorang peserta posyandu ibu hamil.

PKL selama 35 hari itu juga berfokus pada upaya intervensi terhadap permasalahan penyakit tidak menular. Misalnya, diabetes yang angka prevalensinya setiap tahun meningkat. Caranya, diberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan gratis serta senam diabetes. Juga, intervensi pada kasus diare balita karena buruknya kualitas sanitasi lingkungan. (*)

Penulis: Nur Dewiyanti
Editor: Feri Fenoria
Sumber: News Unair