Pelatihan HIRADC, Persiapan Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dengan Laboratorium Menuju Akreditasi APHEA

Pelatihan HIRADC, Persiapan Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dengan Laboratorium Menuju Akreditasi APHEA

Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat mempersiapkan diri menuju akreditasi internasional APHEA. Beberapa persiapan yang dilakukan adalah mempersiapkan laboratorium menuju Good Laboratory Practice (GLP).  Definisi dari Good Laboratory Practice merupakan sistem yang mencakup aturan, prosedur dan praktek di laboratorium yang berkaitan dengan proses dan kondisi yang mendukung studi yang direncakan, dilakukan, dipantau, dicatat dan dilaporkan.

Prinsip GLP yang harus di penuhi oleh Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat untuk menuju APHEA diantaranya:

  1. Test facility organization and personel
  2. Quality Assurance (QA)
  3. Facilities and Stirage
  4. Standart Operating Procedures (SOPs)
  5. Performance of study
  6. K3, Lingkungan, Biosafety and Biosecurity

Pelatihan yang diikuti oleh laboran di Laboratorium pada lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Ketua Departemen, Koordinator Laboratorium serta tim akreditasi APHEA Prodi S1 Kesehatan Masyarakat. Harapannya setelah mengikuti program pelatihan ini adanya follow up perbaikan minor maupun mayor untuk menunjang persiapan akreditasi APHEA yang direncakan pada tahun depan. Terutama dibuatnya dokumen Hazard Identification Risk Assessment Determinant Control (HIRADC) dalam waktu dekat.

 

Penulis: Mursyidul Ibad

Universitas Airlangga Peraih Nilai Tertinggi Terbaik Nasional II

Universitas Airlangga Peraih Nilai Tertinggi Terbaik Nasional II

Universitas Airlangga merupakan salah satu Perguruan Tinggi tertua Kesehatan Masyarakat di Indonesia. Untuk menjamin mutu lulusan Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM) perlu diadakannya Ujian Kompetensi (Ukom). Pada pelaksanaan Ujian Kompetensi Ahli Kesehatan Masyarakat pada periode 21 April 2018, Universitas Airlangga berhasil menjadi peraih nilai rata-rata terbaik nasional II. Skor yang didapatkan Universitas Airlangga sebesar 63,72.

Prestasi lain yang didapatkan adalah 2 peserta Ujian Kompetensi Ahli Kesehatan Masyarakat mendapatkan nilai terbaik baik dalam regional wilayah maupun nasional. Fitrah Bintan Harisma mendapatkan Peraih Nilai Terbaik I Regional Tengah II dan Peraih Nilai Terbaik Nasional II. Skor yang didapatkan adalah sebesar 83,33. Sedangkan Arfella Dara Tristantia mendapatkan Nilai Terbaik II Regional Tengah II dan Peraih Nilai Terbaik Nasional III dengan skor 82,78.

 

Penulis : Mursyidul Ibad

Prodi S1 Kesehatan Masyarakat Bersiap Menuju APHEA

Prodi S1 Kesehatan Masyarakat Bersiap Menuju APHEA

Sebagai salah satu upaya mempersiapkan diri untuk mengajukan akreditasi di level internasional, berbagai hal telah dilakukan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakar Universitas Airlangga. Akreditasi internasional ini adalah merupakan bentuk komitmen FKM Unair untuk mendukung visi Universitas Airlangga menuju 500 world class university.
Akreditasi internasional yang menjadi acuan FKM Unair saat ini adalah dengan menggunakan standard APHEA (Agency for Public Health Education Accreditation) yang saat ini menjadi salah satu acuan standard akreditasi Eropa untuk tingkat magister yang nantinya akan diadopsi untuk standard akreditasi tingkat sarjana di FKM Unair. Harapan ke depan adalah bila kelak akreditasi yang diajukan berhasil, maka FKM Unair akan menjadi satu-satunya FKM di Asia Tenggara yang memiliki akreditasi internasional ini.


Prof. Jorg sedang bertemu dengan Wakil Rektor I Universitas Airlangga

Sebagai salah satu rangkaian kegiatan menuju pencapaian ini, saat ini FKM Unair di bawah koordinasi Tim persiapan akreditasi internasional yang diketuai oleh Dr. Diah Indiarti, S.Si, M.Si telah mengundang konsultan kurikulum dari SES (The Senior Experten Service) Prof. Jorg Ingolf stein dari Austria untuk membantu Tim kurikulum mempersiapkan kurikulum yang sesuai dengan standard yang diinginkan oleh APHEA. Beliau mendampingi tim kurikulum selama kurang lebih satu bulan mulai tanggal 30 Juni hingga 25 Juli 2018. Beberapa hal telah dilakukan, mulai dari telaah dokumen, penyusunan boring kurikulum, workshop, dan sosialisasi kepada staf pengajar di lingkungan FKM Unair.
“Salah satu manfaat yang dapat dicapai dengan adanya akreditasi internasional ini adalah agar FKM Unair dapat melakukan selain standardisasi pengelolaan program studi pada level internasional, juga standarisasi kurikulum sehingga dapat membuka peluang FKM Unair untuk menerima mahasiwa internasional”, jelas Dr. Diah .
Lebih lanjut, Ketua Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM Unair, Corie Indria Prasasti, SKM., M.Kes yang juga selama sebulan ini terlibat penuh dalam proses pendampingan persiapan kurikulum berstandard internasional tersebut menjelaskan bahwa “Diharapkan di akhir kegiatan nanti FKM Unair terutama Prodi S1 Kesehatan Masyarakat telah memiliki kurikulum yang telah memenuhi standard internasional sebagaimana yang disyaratkan oleh APHEA”, tutur.
Prof. Jorg Ingolf Stein selaku konsultan sendiri menilai, bahwa “ Menurut saya FKM Unair telah memiliki base line kurikulum yang cukup bagus untuk ditingkatkan ke level internasional, dalam hal ini dengan standard APHEA. Adalah hal yang sangat baik jika FKM Unair kelak akan menjadi pionir bagi FKM lain baik di tingkat nasional bahkan regional Asia sebagai Fakultas yang memiliki program studi S1 berakreditasi internasional,” ujarnya saat mengikuti city tour yang didampingi oleh tim KIH FKM di sela-sela kegiatan beliau yang cukup padat mendampingi proses penyusunan kurikulum internasional prodi S1 FKM Unair ini.
“Surabaya adalah kota yang indah, modern, dan saya sangat terkesan akan atmosfirnya saat piala dunia kemarin. Hanya saja mungkin anda perlu meningkatkan layanan transportasi publik yang representatif seperti halnya kota kota maju lainnya di dunia”, pungkasnya.

Reporter: Muhammad Atoillah I
Foto: Istimewa
Editor: Ilham A Ridlo

Mahasiswa PKL Tingkatkan Kesehatan Ibu Hamil di Sidotopo

Mahasiswa alih jenis kelompok 2 praktik kerja lapangan (PKL) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga mengoptimalkan peran posyandu dalam menekan rendahnya angka kesehatan balita di Kelurahan Sidotopo, Kecamatan Semampir, Surabaya. Berdasar kuesioner kepada 44 responden yang memiliki balita di sana, hanya terdapat 11,4 persen yang memberikan ASI eksklusif.

”Padahal, berdasar Permen (Peraturan Pemerintah, Red) No 33 Tahun 2012, cakupan ASI eksklusif harus mencapai seratus persen,” ujar salah seorang anggota tim. ”Karena itu, wilayah tersebut kami pilih untuk menggaungkan Periode Emas Seribu Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK) dengan membuat program Posyandu Ibu Hamil (bumil) dan Galaksi X,” imbuhnya.

Rendahnya pemberian ASI eksklusif oleh warga itu disebabkan beberapa faktor. Mulai budaya, tingkat pengetahuan yang masih rendah, hingga kesibukan ibu bekerja.

Karena itu, penyuluhan mengenai ASI eksklusif sengaja dipilih tim yang beranggota sebelas orang tersebut untuk memberikan pengetahuan kesehatan. Di antaranya, soal pengertian, manfaat, kandungan, jenis ASI eksklusif, dan tips sukses menjalankan ASI eksklusif.

”Selain itu, kami memberikan pelatihan cara merawat payudara supaya ASI keluar dengan lancar. Jadi, pemberian ASI eksklusif bisa berjalan dengan baik,” tuturnya.

Yang berbeda, posyandu dari tim FKM UNAIR itu juga khusus ditujukan untuk bumil, terutama untuk mengetahui dan mengontrol perkembangannya. Sebab, umumnya, program memantau kesehatan ibu dan anak menjadi satu wadah dalam posyandu balita.

”Sebenarnya sudah ada program khusus, yaitu kelas ibu hamil, dari dinas kesehatan. Namun, ini, (kelas ibu hamil, Red) hanya setahun tiga kali dan bergiliran di setiap RW,” sebutnya.

Suasana penyuluhan ibu hamil terkait dengan ASI ekslusif. (Foto: Istimewa)

Dengan progam dari tim FKM UNAIR tersebut, kondisi kesehatan bumil setiap bulan diharapkan bisa terkontrol. Selanjutnya, angka kematian ibu mampu ditekan. Termasuk angka kematian bayi melalui pengetahuan tentang program Seribu Hari Pertama Kehidupan.

”Semua ibu hamil itu berisiko. Karena itu, pemantauan secara menyeluruh dan rutin harus dilakukan untuk memastikan kondisi ibu serta janin sehat,” jelas Nurul selaku bidan koordinator Puskesmas Sidotopo dalam sambutan pembukaan posyandu ibu hamil di RW 11 Sidotopo.

Kegiata n di balai RW 11, Sidotopo Sekolahan Gang 4, Rabu pagi (31/1) itu menarget seluruh bumil di sana. Bumil bakal melewati lima meja. Yakni, pendaftaran; pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan, dan tensi darah; pencatatan di buku KIA; konsultasi; serta pemeriksaan fisik.

”Semoga bisa rutin diadakan. Enak kalo bisa periksa di sini soalnya lebih dekat dengan rumah. Nggak perlu mengantre lama. Gratis pula,” ungkap Hanifah, salah seorang peserta posyandu ibu hamil.

PKL selama 35 hari itu juga berfokus pada upaya intervensi terhadap permasalahan penyakit tidak menular. Misalnya, diabetes yang angka prevalensinya setiap tahun meningkat. Caranya, diberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan gratis serta senam diabetes. Juga, intervensi pada kasus diare balita karena buruknya kualitas sanitasi lingkungan. (*)

Penulis: Nur Dewiyanti
Editor: Feri Fenoria
Sumber: News Unair

FKM Unair Bersiap Menuju Akreditasi Internasional dengan Kunjungan ke Griffith University

Makan Malam Bersama
Penerimaan Dengan Pihak Griffith University
Diskusi Bersama
Kunjungan Kelas
Berfoto di Depan Kampus Griffith University

Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat mempersiapkan akreditasi internasional APHEA salah satunya dengan melakukan Visiting Learning ke Griffith University, Australia. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 27 – 30 November 2017. Kegiatan tersebut diikuti oleh Dr. Diah Indriani, S.Si., M.Si selaku Koordinator persiapan akreditasi APHEA. Selain itu terdapat tim persiapan APHEA diantaranya Maya Sari Dewi, S.KM., M.Kes, Hario Megatsari, S.KM., M.Kes, Triska Susila Nindya, SKM, MPH(Nutr). Koordinator Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat, Corie Indria Prasasti, SKM. M.Kes. juga turut serta dalam rombongan.

Agenda hari 1 selama di Griffith Univesity meliputi pegembangan kurikulum kesehatan masyarakat, inovasi pengajaran dan pembelajaran, pengembangan perkuliahan dan struktur penilaian. Kemudian agenda hari 2 meliputi metode pembelajaran untuk mahasiswa internasional dan pengalaman belajar di luar negeri. Selain itu langsung berkunjung untuk melihat perpustakaan, Indonesia Room, Ruang Teater dan Seminar serta Red Zone Facilities.

Penulis: Mursyidul Ibad