Mahasiswa alih jenis kelompok 2 praktik kerja lapangan (PKL) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga mengoptimalkan peran posyandu dalam menekan rendahnya angka kesehatan balita di Kelurahan Sidotopo, Kecamatan Semampir, Surabaya. Berdasar kuesioner kepada 44 responden yang memiliki balita di sana, hanya terdapat 11,4 persen yang memberikan ASI eksklusif.

”Padahal, berdasar Permen (Peraturan Pemerintah, Red) No 33 Tahun 2012, cakupan ASI eksklusif harus mencapai seratus persen,” ujar salah seorang anggota tim. ”Karena itu, wilayah tersebut kami pilih untuk menggaungkan Periode Emas Seribu Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK) dengan membuat program Posyandu Ibu Hamil (bumil) dan Galaksi X,” imbuhnya.

Rendahnya pemberian ASI eksklusif oleh warga itu disebabkan beberapa faktor. Mulai budaya, tingkat pengetahuan yang masih rendah, hingga kesibukan ibu bekerja.

Karena itu, penyuluhan mengenai ASI eksklusif sengaja dipilih tim yang beranggota sebelas orang tersebut untuk memberikan pengetahuan kesehatan. Di antaranya, soal pengertian, manfaat, kandungan, jenis ASI eksklusif, dan tips sukses menjalankan ASI eksklusif.

”Selain itu, kami memberikan pelatihan cara merawat payudara supaya ASI keluar dengan lancar. Jadi, pemberian ASI eksklusif bisa berjalan dengan baik,” tuturnya.

Yang berbeda, posyandu dari tim FKM UNAIR itu juga khusus ditujukan untuk bumil, terutama untuk mengetahui dan mengontrol perkembangannya. Sebab, umumnya, program memantau kesehatan ibu dan anak menjadi satu wadah dalam posyandu balita.

”Sebenarnya sudah ada program khusus, yaitu kelas ibu hamil, dari dinas kesehatan. Namun, ini, (kelas ibu hamil, Red) hanya setahun tiga kali dan bergiliran di setiap RW,” sebutnya.

Suasana penyuluhan ibu hamil terkait dengan ASI ekslusif. (Foto: Istimewa)

Dengan progam dari tim FKM UNAIR tersebut, kondisi kesehatan bumil setiap bulan diharapkan bisa terkontrol. Selanjutnya, angka kematian ibu mampu ditekan. Termasuk angka kematian bayi melalui pengetahuan tentang program Seribu Hari Pertama Kehidupan.

”Semua ibu hamil itu berisiko. Karena itu, pemantauan secara menyeluruh dan rutin harus dilakukan untuk memastikan kondisi ibu serta janin sehat,” jelas Nurul selaku bidan koordinator Puskesmas Sidotopo dalam sambutan pembukaan posyandu ibu hamil di RW 11 Sidotopo.

Kegiata n di balai RW 11, Sidotopo Sekolahan Gang 4, Rabu pagi (31/1) itu menarget seluruh bumil di sana. Bumil bakal melewati lima meja. Yakni, pendaftaran; pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan, dan tensi darah; pencatatan di buku KIA; konsultasi; serta pemeriksaan fisik.

”Semoga bisa rutin diadakan. Enak kalo bisa periksa di sini soalnya lebih dekat dengan rumah. Nggak perlu mengantre lama. Gratis pula,” ungkap Hanifah, salah seorang peserta posyandu ibu hamil.

PKL selama 35 hari itu juga berfokus pada upaya intervensi terhadap permasalahan penyakit tidak menular. Misalnya, diabetes yang angka prevalensinya setiap tahun meningkat. Caranya, diberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan gratis serta senam diabetes. Juga, intervensi pada kasus diare balita karena buruknya kualitas sanitasi lingkungan. (*)

Penulis: Nur Dewiyanti
Editor: Feri Fenoria
Sumber: News Unair

%d bloggers like this: