Pengmas FKM untuk Capacity Building Youth Friendly Service Remaja SeBaya Kerjasama Dengan PKBI Jatim

“Remaja merupakan tahapan pada kelompok usia yang penuh dengan energi dan kreatifitas. Pengarahan energi menuju ke kegiatan yang positif membutuhkan stimulan dari lingkungannya meliputi: keluarga, sekolah dan teman”, papar Nurul Fitriyah, SKM, M.PH, pakar bidang Kesehatan Reproduksi Masyarakat, dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang diselenggarakan Departemen Biostatistika dan Kependudukan FKM Unair.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini diselenggarakan atas kerjasama Departemen Biostatistika dan Kependudukan dengan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Jawa Timur.”Kegiatan ini bertujuan untuk optimalisasi peran pendidik Sebaya/ Peer Educator di Klinik Bersama PKBI jatim untuk Memfasilitasi Kebutuhan Informasi dasar berkonten Kesehatan Reproduksi Remaja pada Kelompok Remaja di Jawa Timur”, jelas Sigit Ari Saputro, S.KM, M.Kes, ketua pelaksana kegiatan pengmas ini. Setelah diskusi kegiatan ini dilanjutkan dengan role play simulasi peer educator pada remaja beresiko tinggi di taman bermain Remaja PKBI serta games seru para Pendidik sebaya.

“PKBI juga sedang meluncurkan salah satu produk terbaru sarana KIE PKBI JATIM berupa senam bertag #Dance4Life yang baru beberapa waktu ini dipublikasikan di beberapa kelompok SeBaya di wilayah Jawa Timur”, jelas Zahrotul Ulfa, Direktur PKBI Jawa Timur. “Youth Centre PKBI merupakan wadah bagi remaja yang ingin belajar tentang isue kesehatan seksual dan reproduksi, PKBI selain melakukan pendekatan pendidikan juga menyediakan layanan kepada masyarakat terkait kesehatan seksual dan reproduksi”, lanjut Zahra.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini juga melibatkan mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat minat Kesehatan Ibu Anak dan Kesehatan Reproduksi serta mahasiswa minat Biostatistika dan Kependudukan. “Pelibatan mahasiswa ini diharapkan dapat sebagai fasilitator aktif bersama Komunitas Pendidik SeBaya dalam memberikan materi KIE pada kelompok populasi kunci Remaja HIV/AIDS sebagai salah satu uji coba peer educator kegiatan pengabdian masyarakat ini. Mahasiswa juga belajar langsung bagaimana kajian peran pendidik SeBaya dalam menegakkan upaya promotif dan preventif meningkatkan status kesehatan reproduksi remaja saat ini” jelas Sigit Ari Saputro.

Prestasi Sejak SMA, Indah Lutfiya Lulus Terbaik S-1 FKM UNAIR

Selain disebut sebagai kota metropolitan, Surabaya juga merupakan penyumbang jumlah remaja terbanyak nomor dua di Jawa Timur. Namun dengan fakta tersebut, ternyata upaya promosi kesehatan (Promkes) reproduksi remaja belum dilakukan secara optimal. Kebanyakan Promkes saat ini lebih difokuskan pada balita. Sehingga salah satu dampaknya, sebanyak 46,7% remaja tidak siap dengan menarche (saat pertama menstruasi) dan ini berdampak pada vulva hygiene yang buruk.

Topik itulah yang diangkat menjadi skripsi oleh Indah Lutfiya, wisudawan terbaik S-1 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga. Ia berhasil merampungkan studi dengan meraih IPK 3,88. Perempuan asal Jombang ini mengaku, keberhasilannya menjadi wisudawan terbaik ini tak lepas dari sikap disiplin yang ia lakukan dalam menjalani rangkaian kegiatan perkuliahan.

“Kunci utama yang harus dilakukan dalam mencetak keberhasilan ini yaitu harus membuat timeline kegiatan dan membuat rencana target dalam hidup. Selain itu kita harus fokus dan konsisten dengan timeline yang sudah kita buat. Kalaupun di tengah jalan rencana itu tidak tercapai, kita harus memikirkan planning lain, sehingga tidak stagnan di tengah jalan,” katanya.

Baginya, kenikmatan hidup yang diberikan oleh Tuhan senantiasa menjadikannya sebagai pribadi yang pandai bersyukur. Bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) MAPANZA dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKM, Indah belajar bahwa sebagai seorang terpelajar sebisa mungkin bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

“Never stop to learn and share your life by giving to each other” begitu motto Indah saat terjun di masyarakat. Selama menjadi mahasiswa, ia tak merasa canggung untuk membaur dan sharing dengan komunitas ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), berdiskusi dengan waria atau gay, menelisik panti rehabilitasi NAPZA, dan berbincang dengan anak jalanan yang tergabung dalam komunitas Save Street Children (SSC). Beragam kegiatan itu menjadi memori manis dalam catatan Indah saat di bangku kuliah.

Padatnya kegiatannya juga tak menyurutkan semangatnya dalam berkarya. Dibalik sukses itu, ternyata saat menempuh sekolah di SMA dulu, Indah juga sering meraih prestasi. Diantaranya pernah memperoleh Juara II Kelas Paralel se-SMAN III Jombang, Juara II Cerdas Cermat lomba UKS se-Kabupaten Jombang tahun 2010. Tahun 2014 lolos Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) yang membahas tentang kusta yang didanai DIKTI. (*)

Penulis: Disih Sugianti
Editor: Binti Q. Masruroh

Sumber :news.unair.ac.id

Alumnus FKM Jadi Tenaga Kesehatan Terbaik se-Indonesia

Di hadapan lebih dari 340 mahasiswa baru Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, hadir salah satu alumnus berprestasi. Alumnus tersebut memberikan motivasi dan memaparkan program-programnya yang berhasil meraih penghargaan dari pemerintah.

Adalah Muchaiyan yang berhasil menyandang predikat Tenaga Kesehatan Berprestasi Tingkat Nasional 2016 dari Kementerian Kesehatan. Muchaiyan memberikan pemaparan mengenai “Damar Geulis Ciptakan Posyandu Manggis yang Optimal”. Kuliah umum dilaksanakan pada Jumat (26/8) di Aula Kahuripan 300, Kantor Manajemen, UNAIR.

Muchaiyan merupakan alumnus UNAIR tahun angkatan 2002. Kini, ia didapuk menjadi Kepala Puskesmas Mangunharjo, Kabupaten Madiun. Selama menjadi kepala puskesmas, ia memiliki gagasan untuk menjadikan pos pelayanan terpadu di wilayahnya menjadi badan yang mandiri secara keuangan.

Untuk mewujudkan idenya, ia memiliki program bernama Damar Geulis. Damar Geulis adalah kependekan dari Pemberdayaan Masyarakat dan Penggerakan Lintas Sektor. Sebagai proyek percontohan, ia telah menerapkan Damar Geulis itu pada Posyandu Manggis, Kelurahan Winongo, Madiun.

Dalam menerapkan program Damar Geulis, ia menggandeng banyak pihak untuk mewujudkan program tersebut. Ia melibatkan kelurahan, kader posyandu, dan seluruh elemen warga. Kuncinya adalah bisa memengaruhi tokoh-tokoh penting dalam masyarakat.

Beberapa program Damar Geulis yang menarik antara lain memberikan pelatihan kepada kader terkait pemberantasan jentik nyamuk, pendirian bank sampah, hingga senam rutin bersama warga lanjut usia. Ada pula kebijakan dirinya untuk menganjurkan warga membayarkan ‘denda’ apabila ketahuan merokok.

“Apabila suaminya merokok, maka istrinya yang membayar uang Rp500 ke posyandu. Dengan berjalannya waktu, itu berkembang menjadi dana persalinan. Semakin ke sini, sudah ada kawasan terbatas merokok. Sehingga istrinya akan melarang suaminya merokok. Kami juga bekerjasama dengan pak lurah bahwa tidak boleh ada spanduk rokok, dan kita tempel larangan merokok,” tutur Muchaiyan.

Cita-citanya sebagai kepala puskesmas hanya satu, yakni menjadikan posyandu sebagai tempat masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai kesehatan. Ia ingin agar programnya bisa direplikasi di tiga posyandu, dan tujuan puskesmas untuk membentuk kecamatan sehat akan berhasil.

“Saya ingin posyandu menjadi tempat masyarakat mendapat informasi kesehatan, bukan hanya tempat timbang bayi. Nanti, di RT (rukun tetangga, -red) muncul kampung sehat kampung sehat. Kalau di RT sudah terbentuk, maka tugas puskesmas untuk membentuk kecamatan sehat akan berhasil. Kita juga harus memanusiakan kader. Kader juga manusia, dia butuh pujian, sanjungan, dan bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan,” imbuh Muchaiyan.